Jurus Pondok Pesantren Darunnajah Tekan COVID-19

Graha BNPB Jakarta 16 Oktober 2020 - Pembatasan akses keluar masuk orang dengan sistem satu pintu dan penegakan sanksi tegas terhadap pelanggar protokol kesehatan jadi kunci Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta memutus mata rantai penyebaran wabah coronavirus (COVID-19).

Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si mengatakan tujuhbelas pondok pesantren yang dikelolanya sudah melakukan belajar tatap muka dan sisanya dua pesantrennya, di Jakarta dan Bogor, masih belajar daring (online). Dari seluruh Pondok Pesantren Darunnajah total tercatat 13.500 santri yang belajar di pondok pesantren tersebut.

Dalam talkshow "Sosialisasi Iman, Aman, dan Imun Hadapi COVID-19" di Media Center Satgas Penanganan COVID-19 Graha BNPB Jakarta pada Jumat (16/10) siang Kyai Sofwan mengungkapkan selama pandemi ini hanya satu kampus yang terpapar COVID-19 melalui salah seorang santrinya. Virus itu diduga tertular dari keluarga. Namun tim Satgas Ponpes Darunnajah cepat melakukan tindakan dengan membawa anak tersebut melakukan swab test dan seluruh santri di pondok menjalani rapid test oleh dinas kesehatan terkait.

"Koordinasi Satgas Darunnajah dan Dinkes bagus sekali sehingga langkah cepat ini langsung bisa menekan penyebaran virus COVID-19," ujar Kyai Sofwan melalui zoom.    

Keberhasilan menekan penyebaran virus di pesantren yang dipimpinnya itu, lanjut Kyai Sofwan, dilakukan dengan menerapkan satu pintu masuk atau yang disebut “one gate system” guna membatasi lalu lintas orang.

"Biasanya dari kasus seperti pesantren itu karena ada orang keluar masuk dan bersentuhan dengan pihak luar, kemudian kembali ke pesantren," ujar Kyai Sofwan.

Selain pembatasan akses masuk, Satgas Pondok Pesantren Darunnajah juga menegakkan peraturan tambahan kepada santrinya yang akan masuk ke pasantren dengan empat tahap, salah satunya adalah melakukan isolasi mandiri sebelum bergabung dengan santri lainnya.  
Selain itu aturan menggunakan masker bagi santri, guru, dan pengelola di lingkungan pesantren. Bahkan, khusus untuk menggunakan masker, siapapun yang ketahuan tanpa masker maka dikenakan sanksi denda Rp 250.000.

"Memang mengubah perilaku dari tak siap menjadi siap itu harus dipaksa," papar Kyai Sofwan.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19 Dr. Sonny Harry D. Harmadi mengatakan pesantren diharapkan jadi ujung tombak di masyarakat dalam mensosialisasikan perubahan perilaku guna menekan virus corona melalui keteladanan dan edukasi.

Pondok pesantren merupakan kumpulan kaum cendikiawan, selain menerapkan pada dirinya juga memberitahukan kepada masyarakat.

"Kyai ini menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya sehingga sosialisasi yang dilakukan sangat efektif. Pondok Pesantren Darunnajah bisa menjadi contoh bagi pondok-pondok pesantren lainnya di Indonesia dalam menerapkan protokol kesehatan," kata Sonny Harmadi.

Sonny menambahkan selain aturan ketat yang sudah diterapkan, pesantren juga bisa menerapkan santrinya menggunakan peralatan pribadi dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya peralatan makan dan beribadah guna menghindari penyebaran virus.  

Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan perubahan perilaku paling penting dalam mengantisipasi penyebaran virus corona. Alasannya, penularan virus ini dari manusia yang masuk melalui mata, hidung, dan mulut.

"Perubahan perilaku ini menjadi penting. Pakai masker, jaga jarak dan menghindari kerumunan, serta cuci tangan pakai sabun di air mengalir upaya efektif menangkal COVID-19," ujar Prof. Wiku Adisasmito.


(STPC19/AHM/VJY)

Bagikan